Friday, January 22, 2016

Ponderosa



Waktu gue masih anak-anak,-sekitar taon 1973-1975, ada salah satu serial cowboy yang di tayangin satu-satunya TV Indonesia :TVRI.  Judulnya The Big Valley.  Dan berhubung waktu itu belom punya pilihan tontonan lain, jadi suka ngga suka, biar masih anak-anak, kita ‘terpaksa’ nonton.


Kenapa terpaksa ? Karena typical film Barat yang bisa dibilang hampir mustahil tanpa adegan ‘kissing’ alias ciuman (ya bibir dong, masa lobang idung,..hehe), bikin gue yang masih kecil ditabukan nonton cium-ciuman.  Hehehe,..bokap gue bakal duduk bareng sambil megang remote, dan langsung me-move on-kan adegan ‘begituan’
 
(Berhubung sekarang gue udah tua, kalo pas nonton bareng bokap, gantian guenya yang mindahin saluran TV, buat nyari yang lebih ‘hot’ dari sekedar ciuman,…wkwkwk)

Dari banyak adegan film tersebut, ada satu scene yang paling gue doyan liat dan inget-inget, yakni pemandangan perbukitan yang penuh hutan pinus.  Wuihh, keren tenan coy.  Dan sampai masa tertentu, gue meyakini kalo pinus itu bahasa Inggrisnya adalah Ponderosa.  Tapi kelak gue tahu kalau Ponderosa adalah nama pinus: Pinus Ponderosa.

----------------0000---------------

Waktupun berjalan, dan gue tumbuh besar dan lebar, serta melupakan Ponderosa di film The Big Valley, hingga gue sadar, kalo gue pernah begitu menyukai pemandangan hutan Pinus tersebut, sampai gue ditemukan hutan Pinus Soputan di taon 1989.  Dejavu ? Ah, gue ngga ngarti begituan.  Yang gue ngarti, dan ngga bakal gue lupain seumur hidup, adalah rangkaian episode yang pernah bergemuruh, bergejolak, dan menggelegakan hormone-hormon maskulin di sendi-sendi tubuh gue.   Berjuta kisah manis pernah kuncup di sana,-di bawah rerimbunan dan guguran daun Pinus Soputan.


Di taon 89’an, hutan pinus Soputan belom serame sekarang.  Ayam and babi hutan masih sering keliatan kelayapan bareng anak-anaknya.  Dan dulu, kita belom ‘tersentuh’ hp, apalagi gadget.  Malahan, kalo kebetulan yang mendaki laki semua, ada beberapa ekor yang cuek kesana kemari cuma pake celana dalem yang side A & Side B. widiiihhh,….au ah.

Mungkin ngga terlalu berlebihan kalo pinus Soputan juga salah ‘satu organ’ dari rahim kelahiran MPA Zoox,’ karena ngga sedikit ide dan aktifitas awal beruaya dari sana.  Di antara rongga-rongga mistisnya.


Dalam dekap dan alunan dawai dedaunannya, pinus Soputan bukan cuma menyimpan berjuta keanggunan nan seksi, tapi juga kisah sedih, gembira, apalagi cinta.  Pinus Soputan juga perpustakaan tanpa buku yang mencatat pergulatan batin mahluk-mahluk rapuh bernama manusia, dengan PenciptaNya.

Di pinus Soputan, gue bareng beberapa temen kerap ‘sepakat’ tanpa kesepakatan tentang banyak hal.  Entah lagu fave, wanita idola, ato mata kuliah penyebab gangguan pencernaan & radang dompet.


Di kesenyapan pinus dulu, kita kerap ‘sepakat’ tanpa kesepakatan untuk sama-sama nyanyiin lagu ‘Biarkanlah’-nya Anang, ‘Maafkan & Terlalu Manis’-nya Slank, ‘Antara Aku, Kau dan Bekas Pacarmu’-nya Iwan Fals, ‘Right Here Waiting’-nya Richard Marx, and ‘Tak Bisa Ke Lain Hati & Tentang Kita’-nya Kla Project. Hehehe, piye toh iki, koq udah mirip daftar lagu di Gudanglagu.com….

Mungkin juga itu salah satu keuntungan belum maraknya MP3.  Karena kalo sekarang, pastinya udah ngga heran liat pendaki yang jalan sambil geleng-geleng dan manggut-manggutin kepala (padahal yang di puter music klasiknya Bethoven).

-----------0000----------

Believe or not, pinus Soputan seolah mengalirkan energy mistis yang sulit di tepis, manakala dua mahluk beda kutub menyatu, dan bercengkrama di bawah pesonanya.  Geliat hormon mengkristal seirama desah dedaunan dan belaian lembut rembulan.  Perlahan, jemari saling menggenggam, tubuh mendekap dalam diam dan kehangatan, hingga akhirnya, berakhir dalam pagutan-pagutan lembut yang sulit terelakan.  Seolah meng-amin-kan syair lagu Slank.

Di malam yang dingin, dan gelap sepi, benaku melayang pada kisah kita. 
Terlalu manis, untuk di lupakan, kenangan yang indah bersamamu,….

Ah, masa muda emang selalu ngeri-ngeri sedap untuk di ingat.  Masa yang penuh dinamika, romantika, dan statistika,…

---------------0000----------

Pinus Soputan mungkin hanyalah sebuah tempat tanpa makna bagi banyak orang.  Tempat berjuta butir embun menyatu, meregang, dan memendar bersamaan.  Tempat dimana elegi dan euphoria mengalun dalam simphoni alam.  Tempat di mana jemari Yang Maha Kuasa terasa begitu dekat digenggam.  Tempat yang mungkin suatu saat kelak hanya bisa dilihat di album-album foto medsos.  Tempat yang kini merana karena muntahan perut Soputan.  Tapi pinus Soputan, tetaplah pinus Soputan.  Sebuah noktah kecil di bawah mentari yang akan selalu menempati satu sudut di hati gue.  Hati seorang bekas petualang tua yang tak pernah henti terpesona pada aura eksotis dan mistisnya.

Di tempat itu juga, banyak pemegang slayer MPA Z meneteskan peluh dan airmata.


Pengetahuan, Keberanian, & Kebersamaan

Wednesday, December 30, 2015

Beda Generasi, Beda Medan Laga, Kebersamaannya Beda Juga..?



Hi,…ijin nongol.  Sebelom lanjut, socy bahasanya mocat-macit (huruf 'R' di tuts pc gue gak tau ke mana ?) Tapi gak usah maksain buka kamus. Coz kamusnya juga belom dicetak.



Buat nutup kalender 2015, sebenarnya gue and broe Belly punya agenda yang broe Belly bilang sebagai 'exotis moment' yakni merayapi medan klabat hingga ke puncaknya di tanggal 30 December 2015.  Sayangnya moment tersebut batal lantaran minusnya supporting elang-elang muda Zoox’ yang diharapkan mengusung pernak-pernik pendakian berupa ransum, tenda, air minum, dll.


Sebagai petualang, gue and broe Belly udah gak bisa dikategoriin muda.  Apalagi buat ngadepin medan ‘segenit’ klabat  yang kounturnya naik, turun, melingkar, maju, mundur,…cantik,…hehehe, koq mba Syahrini kebawa-bawa seehh.  Tapi bener kan, karena jangankan gue ama Belly yang 45 th plus.  Orang muda 30’an aja banyak yang nahan napas dan kentut kalo diajak naek klabat.  Makanya, lantaran sadar sama ketuaan, kaum gaek ini butuh bantuan elang-elang muda yang sudi mengawal, sekaligus mengusung ransum, peralatan pendukung pendakian, dll. 


Tapi akhirnya gue ama broe Belly harus nrimo dan legowo dengan kesadaran kalo emang timingnya yang walau exotis, justru keliatan ekstrim dan melanggar kebiasaan umum.  He,..he,..30 Desember man.  Saat di mana para kaum waras ngumpul bareng keluarga buat ngerobek kalender 2015, eh malah diajak nyungsep and grasak-grusuk ke hutan yang full semak bermedan edan kayaq klabat.  Lah wong jin aja mungkin males, dan lebih milih ngorok di botol.  Mana hujan lebat lagi doyan-doyannya.  Gue sendiri ngga yakin kalo 25 – 30 taon lalu sudi diminta ngawal Miss World sekalipun (tapi kalo pake bikini mah gue pikir-pikir,..hehe,..kan gue belom merit waktu itu,..gusrak)


Suka gak suka, akhirnya gue ama broe Belly harus me-reschedul lagi hasrat waras petualang tua, tuk menikmati orgasme siksa tapi indah (buat ortu, pilihan kata ini kedengeran lebih maskulin ketimbang adreanalin,…wkwkwk) di moment exotis pada akhir 2015 di puncak klabat. Huuufhhh,…


Kecewa ? Jelas dong.  Bohong kalo ngga.  Apalagi gue udah mbela-mbelain balik dari Sangihe dengan sedikit saling tarik kolor celana,…upss,…maksudnya urat leher, sama istri yang jelas lebih pengen dikelonin daripada guenya ngelonin dinginnya tanah klabat.  Tapi yang lebih bikin gue miris adalah fakta yang mengiringi kekecewaan broe Belly.  Gila coy, gue baru tahu kalo doski udah persiapan fisik 2 bulan sebelumnya untuk moment ini.  Malah doski bilang, doski rela jogging jam 11 malem, sampe sukses nurunin berat badannya 4 kg.  Aji gile sohib gue itu.  Gue udah lari sore hampir 5 bulan (waktunya sih putus-putus), plus ngga makan malem (cuman makan siangnya 3 piring…hehehe), toh tetap sukses stay tune di 97 kg, alias ngga bergerak biar 0,1 digit.  Papa mia…!! 


Easy broe,..kita masih punya waktu.  Man proposes, God disposes.  Hehehe,..yang beginian mah kaga perlu gue khotbahin kan sob….


Tapi mungkin broe Belly bisa sepakat sama gue, bahwa untuk mencapai orgasme siksa tapi indah tersebut haruslah perfect, dalam arti, ngga boleh ada satu sosok-pun, termasuk elang muda yang mengawal kita, berada pada situasi hati yang gundah karena terpaksa.  Karena kalo gitu jadinya, wah, orgasme siksa tapi indahnya ngga bisa sama-sama dong.  Hehehe,…



Btw, yang barusan loe baca, itu baru pengantar sob.  Walah….????



Ada ‘buram merah jambu’ yang luruh sekilas di otak gue yang kapasitas memorinya tinggal dikit.  Sesaat setelah hasrat merayapi klabat tertunda, broe Belly bilang ade-ade Zoox’ berencana kongkow sambil rafting, ato river boarding (kalo gak salah nulis yooo).  Belly nanya ke gue kalo mau ikut.  Gue bilang suka sih ngumpul, tapi kalo rafting ato river boarding gue engga.


Simpul acak di syaraf otak gue tersadarkan oleh guratan-guratan fakta inter generasi.  Gue, Belly, and angkatan tua (gila, koq gue ngerasa kayaq fosil mahluk purbakala yang udah tua banget ya,..hehehe) tergila-gila menggerayangi medan-medan pegunungan.  Kita-kita gak pernah kenal yang namanya rafting, river boarding (kalo boarding pass tau dikit,..hehe).  Fenomena yang justru menggejala di generasi Zoox’ selanjutnya.  Suer, ngga ada yang salah sama fakta tersebut.  Salahnya, kalo generasi Zoox’ mengubahnya jadi ritual cari kutu, manicure and pedicure, ato suntik botox buat gendutin gusi.


That isn’t about seniority, respecting, capacity, or capability.  It’s all about choice.  Dan dinamika hidup menuntun orang pada pilihannya.  Pada medan laganya masing-masing.  Generasi Zoox’ telah menemukan medan laganya sendiri.


Seorang pakar etika & motivasi, Stephen Covey bilang: ‘dua orang bisa melihat hal yang sama dengan sudut pandang yang berbeda, dan itu bukan masalah logis, namun psikologis   


Selanjutnya di katakan juga ‘cara kita memandang sesuatu, menentukan keputusan dan tindakan kita


Konon, cemilan favorit salah satu suku pedalaman Papua adalah kadal bakar.  Mereka telah memproklamirkannya sebagai cemilan turun temurun.  Mereka ‘dibesarkan’ oleh keyakinan bahwa kadal bakar-lah cemilan yang tak tergantikan.  Kalau mau coba, silahkan paksa ganti ‘keyakinan’ tersebut sama Potato Chips,-cemilan kentang garing asin yang pabriknya di Surabaya, atau Bengbeng,-karamel di labur coklat yang ada di hampir semua warung.  Jangan kaget kalo ada anak panah bikin lobang satu di sebelah puser.



-----oooo----



Dalam obrolan pendek via phone, kita sempet juga menyentuh salah satu  wilayah sensitive (wooyy,..jangan ngeres tuh otak) yang udah lama Zoox’ jadikan moto, yakni Kebersamaan.  Sebuah kata yang tidak semata melibatkan rasa (berkaitan dengan perasaan/batin), tapi juga karsa (niat dan kemauan).
pict from google

Kebersamaan tidak bisa hanya berwujud roh, tapi juga harus mengejahwantah, dan exist dalam tindakan.

Seandainya ke tangan para elang muda Zoox’ di berikan sebuah alat ukur, dapatkah generasi Zoox’ saat ini mendeskripsikan, sudah sedalam dan selebar apakah kebersamaan itu? Sekokoh, atau serapuh apakah nilai-nilai kebersamaan itu mengakar dalam sendi-sendi Zoox’ muda ?
from google too

Mungkin pertanyaan tersebut ngga enak, malah terkesan mengintimidasi. Tergantung gimana loe mandangnya sih. Tapi gue rasa ngga salah kalo ada seonggok mahluk tua, yang mencoba bernostalgia sambil berayun-ayun di dahan rapuh, dan berteriak “ Hei, awas lubang,..hei, awas jurang, awas batu longsor…,pake mata dong,..woii,..awas ada bibirnya Angelina Jolie,..”

Lagipula, di antara pengetahuan, keberanian dan kebersamaan, bukankah kebersamaan yang tidak bisa, dan tidak boleh di-individual-kan ? Karena ketika kebersamaan terpilah dalam bingkai individualistis, lebih baik hapus saja dari moto, lalu catat dalam sejarah Zooxanthellae: Dulu kami pernah punya kebersamaan, tapi sekarang tidak lagi.

Mungkin Indonesia juga bakal mencatat hal yang kurang lebih sama dalam dalam sejarahnya: dulu, kita adalah satu Nusa, satu Bangsa, dan satu Bahasa: Indonesia.  Tapi sekarang tidak lagi, karena sudah ada Nusa Utara (sebuah catatan imaginer karya burung pelatuk, woody woodpecker)

Gue yakin loe pernah denger pepatah Sangihe: "Don't judge a book by its cover" ato jangan nilai buku dari sampulnya. Gitu juga sama tulisan ini. Jangan nilai gue karena berat badan gue, tapi nilai sendiri bener ato tidaknya sepenggal kisah sebelom tidur yang barusan loe baca. Karena mungkin gue naif dan bodoh mendeskripsikan makna kebersamaan itu sendiri. Tapi gue yakin, senior Zoox' lainnya sangat paham maknanya. 



-----oooo-----

Penutup.  Gue inget sama slogan Vony Panambunan and Joppi Lengkong waktu kampanye pilkada Minut. “Mari bung rebut kembali


Cuma lantaran gue mbacanya pas lagi naek mikro Bitung, dan sticker slogan tersebut di mikro lain yang kebetulan melintas, gue sempet salah baca “Mari bung rambutan kembali”…..astaganaga, koq rambutan sih ? Nih mba Vony mau bikin pabrik rambutan kaleng kali ya, tapi knapa pake sticker segala ?

Trus, apa hubungannya sama judul tulisan gue ? Yee,…suka-suka gue kaleee,..gue yang nulis, nyolot…..



Jabat erat for semua mahluk Zoox’ yang merayap, melompat, bacenge, berayun, nangkring, dsb.


Met Natal 2015 buat yg ngerayain, and met nyongsong 2016.



Meniti, Menata, dan Menuntaskan,…tas,..tas,..tas.

Friday, January 30, 2015

Kita pernah duduk bareng di persimpangan itu coy,...


Bitung, 30 januari ‘15

Jam di sudut kanan bawah laptop gue terpatri 17.34

Sob, waktu  mulai nulis ini, gue udah ampir ngabisin rokok sebungkus.  Segelas kopi panas ke-4 hari ini ngepul di samping kanan gue.  Aromanya,...alamak,.. still always maknyos buat gue, walau  udah lebih dari 227.000 gelas sejak tahun 1989 (hehehe,...barusan koq gue itung pake kalkulator. 26 th x 12 x 365 x 2 gelas rata-rata = 227.760 gelas).  Gelas ke-3 hari ini gue seruput bareng  Mner Siegfrid Berhimpong yg kebetulan sowan ke pabrik nenteng 2 tamunya yang asal Myanmar.  Tamu 1 lagi Tato, alias Joseph Palinggi, friend  from long..long time ago.

When  all my guest is going home, gue  nengok ke kalender,...ya amplop, gue lupa ngerobek.  Masih tanggal 29 Jan 2015 di situ.  Terus gue keinget sama Sharon Dewi Mengko,...hehe,..biasa, itu tuh, .......cewek berondong yang tergila-gila ama gue, sang Grandong...wkwkwkwkw,....becanda koq Dew, gak usah dimasukin ke SKS,..entar ente tambah galau lantaran banyak yang nanyain ‘udah kerja di mana ?’,...hehehe.  Maksudnya, gue inget waktu kemaren dulu ngintip FB sembunyi-sembunyi, neng  Sharron DM ngajak for celebrate Zoox’ B day.  Trus ada juga mas Alam L yang nge-status for ngucapin H B day Zoox, yang kemudian di sambut bang Ray Repi yg dengan nada penyesalan karena gak sempat di gantungin slayer di lehernya,...  Waduh,..koq gue jadi rasa ngga enak ya.  Udah terlambat soalnya mo ikutan koment.  Tapi, you know-lah, sebagai ortu, gue masih punya banyak koleksi dalih.  Makanya gue bikin tulisan aja.
 
---------------000------------

MPA Zoox’ sekarang udah 26 taon.  Keren. 

You know coy,...seringkali, tiap gue liat foto dulu-dulu,...ingatan tentang zoox punya probabilty cukup gede menuhin sel-sel neoron di jidat gue yang panunya mulai ilang lantaran gue rajin nggosok Kalpanax.

ih koq si anu cupu banget ya dulu,..si ene emang nggemesin dari dulu,  gaya si ena emang udah lebay dari dulu, koq si ono jarang nongol ya,...huh,..si itu ngga berubah dari dulu, kalo tidur tangannya di masukin ke celana

Tiap gue punya kesempatan ngelewatin jalur yang dulu sering gue lewatin, ingatan gue bakal merujuk ke Zoox.  Di situ gue pernah baring-baring,...di sono gue pernah di muat mobil plat merah,...di jembatan itu kita pernah nggodain cewek,..di perempatan tudia pernah ada sopir yang terkecoh sama baju seksinya ET, and di persimpangan sono kita pernah duduk bareng lama banget nungguin mobil apa aja yang sudi memuat kita-kita.’  

Pokoknya asyik lah.  Btw, ngomong soal ingatan, kita pasti beda-beda.  Karena ngga semua yang gue inget, loe juga.  Begitu juga taputarnya.  Katanya sih mengingat juga ada kaitannya sama ‘pilihan’.  It means, kita mengingat yang mau kita ingat.  Biar kata pacar loe dulu banyak, kan gak semua pengen loe inget....wkwkwkwkw,....gak usah tersipu-sipu geto kaleee.....(wooiii,....jangan nggigitin kuku dong,..pamali)

Beberapa waktu lalu, gue nongkrong sama beberapa temen Zoox mula-mula, salah satu temen ngomong gini ke gue: “Bin, Zoox itu masa lalu.  Bukan ranah dan milik kita lagi, kita hidup di dunia yang lain (dalam hati gue senyum,..emang gue kuntilanak apa ?).  Sekarang jaman mereka.  Zoox kita jadiin aja salah satu kenangan terindah kita

Tiba-tiba gue kangen syair lagunya Samson:

Bila yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu,
kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku,
namun takkan mudah bagiku meninggalkan jejak hidupku yang t'lah terukir abadi sebagai kenangan yang terindah

Temen gue ngga salah.  Karena itulah pilihan dan keyakinannya.  Itu hak dia. Dan gue pikir, peryataannya juga mewakili banyak pemegang slayer Zoox.  Bukankah fakta yang menyeruak di Zoox juga begitu ? Banyak yang ingat, tapi juga banyak yang memilih untuk ‘tidak perlu’ mengingat.  Malah, kalaupun ada yang beranggapan bahwa Zoox sudah rusak, hehehe,...itu kan persepectif doski.

Yang penting bukan apa kata orang tentang loe, tapi apa yang loe yakinin tentang diri loe sendiri’ (dewamabuk.com)

Kalo loe tanya ke gue, ehmm,...gue cuma pengen bilang:

Kita pernah duduk bareng di persimpangan itu coy,...’

MET ULTAH ZOOXANTHELLAE......


upss,..wait a minute.  Argggh,...setan nih laler, dari kakek moyang loe sampe ke loe, knapa sih doyan banget berenang di kopi gue... ? (akhirnya gue tau, ternyata dari 227.000 gelas kopi yang gue bikin, 30%-nya terpaksa bikin lagi lantaran dijadiin kolam renang favoritnya laler....)

Salam & Jabat erat.....eaooooooo....

Saturday, May 10, 2014

See You There My Friend.........



Balik istirahat makan tadi siang HP gue ketinggalan.  Trus gue telphon ke orang rumah buat nanya siapa-siapa  yg nelpon.  Pas ada satu nama yang jarang nelpon ada di sono, gue bertanya-tanya, ada apa nich,..tumben.  Penasaran, feeling, gue buka FB, trus merambah ke beranda.  Deg,...ah becanda nich,..foto pria bule kacamata item terpampang dengan tulisan Rest In Peace.  Gue masih ngga percaya,..gue tahu kelakuan banyak temen Tery yang doyan becanda sejak muda dulu.  Tapi ini sich becandaan yang ngga lucu. Gue terdiam lama,..koment-koment di situ meyakinkan gue kalo ini sungguhan.  OMG,...what happend with him ?  Tery udah duluan menghadap Tuhan ?

===============

Taon 1989 – 1991 boleh dibilang masa-masa awal gue menenggelamkan diri ke petualangan alam bebas.  Taon itu juga gue dikenalin salah satu temen sama Tery.  Biar laki, gue ngga bisa pungkirin kegantengan bocah itu.

Gue sama temen-temen plus Tery cuma punya dua aktifitas: kuliah, naik-turun gunung dan masuk keluar hutan.  Seolah ngga ada kesibukan yang lebih penting selain kegiatan tersebut.  Parahnya, pernah ada statement yang bilang kalo ‘kuliah adalah sekedar hobi, tapi naik gunung itu wajib’.  Padahal, di sono kita cuma ngabisin waktu menggumuli aroma tanah, pohon,  sejuknya hawa pegunungan, dan ngintipin kerlip bintang di kegelapan langit.  

Waktupun berlalu, kita akhirnya dipisahkan oleh kesibukan masing-masing.
Dari FB gue ketemuan lagi sama Tery yg rupanya eksist di kecinta alaman.  Mmh,..pribadi yang konsisten.

Sampai......

Ah Ter, lama ngga ketemu, gue harus terpaku di depan  monitor  pc dengan kesedihan dan rasa ngga percaya kalo loe udah pergi. 

Sekarang loe ngga bisa naek gunung  dan masuk keluar hutan lagi, ngga bisa nyium aroma tanah dan pepohonan hutan, ndenger kicau burung dan jeritan monyet, melototin sun rise ato sunset.  


Loe juga ngga bisa lagi nyelem di birunya lautan yang amazing sambil nggelitikin ikan-ikan.  Loe udah ke tempat paling indah yang bikin loe ngga bakal berenti terkagum-kagum sampe senyum aja loe lupa.  Lah iya lah, ....emang siapa sich yang ngga doyan liat senyum loe sob ?

Gue juga tau loe ngga bisa mbaca tulisan gue.  Hehehe,...emang loe juga males mbaca koq.  Tapi gue tulis ini sebagai ungkapan rasa kehilangan, duka mendalam dan apresiasi dari salah satu temen diantara ribuan temen yang loe punya, dan ngerasa bangga pernah jadi temen loe.

Met jalan pecinta alam sejati,...Met jalan Ter,...see you There.

Turut berduka cita yang mendalam saya sampaikan pada  keluarga yang ditinggalkan dan orang-orang yang mengasihi  Tery Sawotong.  Kiranya Yang Maha Kasih Tuhan senantiasa memberikan kekuatan dan ketabahan.


IN MEMORIAM

 

TERY SAWOTONG

10 MEI 2014